Kajian, kitabterbuka - Maria Magdalena adalah salah satu tokoh perempuan paling penting dalam Perjanjian Baru (Injil), namun juga salah satu yang paling sering disalahpahami. Berikut penjelasan yang seimbang berdasarkan sumber Alkitab dan sejarah Kristen awal.
PENDAHULUAN
Siapakah Maria Magdalena?
Maria Magdalena (Yunani: Maria hē Magdalēnē) berarti Maria dari Magdala, sebuah kota di tepi Danau Galilea (sekarang wilayah Israel). Ia adalah murid Yesus, bukan sekadar pengikut biasa. Dalam Injil, Maria Magdalena disebut:
• Mengikuti Yesus selama pelayanan-Nya
• Mendukung pelayanan Yesus secara materi
• Menyaksikan penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus
Lukas 8:1–3 menyebut Maria Magdalena sebagai salah satu perempuan yang melayani Yesus dari harta mereka.
Tidak ada bukti Alkitab yang menyatakan Maria Magdalena adalah pelacur. Kesalahpahaman ini muncul karena:
• Ia pernah disebut dibebaskan dari tujuh roh jahat (Lukas 8:2)
• Dalam tradisi Gereja Barat abad pertengahan, ia disamakan secara keliru dengan: Perempuan berdosa dalam Lukas 7, Maria dari Betania (saudari Marta dan Lazarus), Gereja Katolik sendiri secara resmi mengoreksi pandangan ini pada abad ke-20.
PERAN PENTING DALAM KEBANGKITAN YESUS
Maria Magdalena memiliki posisi sangat istimewa dalam iman Kristen. Dalam Injil:
• Ia adalah orang pertama yang melihat Yesus bangkit (Yohanes 20:11–18)
• Ia menerima tugas langsung dari Yesus untuk memberitakan kebangkitan kepada para murid Karena itu, dalam tradisi Gereja Timur, ia dijuluki:
“Rasul bagi para rasul” (Apostola Apostolorum)
Dalam beberapa tulisan Kristen awal di luar Alkitab (misalnya Injil Maria):
• Maria digambarkan sebagai murid yang memiliki pemahaman rohani mendalam
• Kadang diposisikan berdebat dengan Petrus
Namun, teks-teks ini ditulis jauh setelah Injil kanonik, serta Tidak dianggap sebagai Kitab Suci oleh gereja arus utama. Ia menunjukkan bahwa dalam ajaran Yesus: Perempuan memiliki martabat, suara, dan peran rohani yang setara.
Makna Maria Magdalena bagi iman Kristen, Maria Magdalena melambangkan:
• Kesetiaan (tetap bersama Yesus saat murid lain melarikan diri)
• Pemulihan (hidupnya diubah setelah bertemu Yesus)
• Peran penting perempuan dalam gereja mula-mula
TENTANG INJIL MARIA
Injil ini berfokus pada percakapan Yesus yang bangkit dengan para murid, khususnya Maria Magdalena.
• Ditulis sekitar abad ke-2 Masehi (±120–180 M)
• Naskah yang ada sekarang berbahasa Koptik, ditemukan tahun 1896 di Mesir
• Sayangnya, teksnya tidak lengkap (beberapa bagian hilang)
Gereja arus utama tidak memasukkannya ke dalam Alkitab karena ditulis jauh setelah para rasul serta mencerminkan teologi tertentu (gnostik/spiritual).
a. Maria sebagai murid utama
Setelah Yesus pergi:
• Para murid takut dan bingung
• Maria Magdalena menenangkan mereka
• Ia menyampaikan ajaran rahasia yang ia terima langsung dari Yesus
Ini menunjukkan Maria dipandang sebagai murid yang matang secara rohani.
b. Konflik dengan Petrus
Salah satu bagian paling terkenal:
• Petrus meragukan otoritas Maria
• Ia mempertanyakan: “Apakah Yesus benar-benar berbicara secara rahasia kepada seorang perempuan?”
• Lewi (Matius) membela Maria dan menegur Petrus
Tema penting: Otoritas rohani tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh pemahaman dan kedewasaan batin.
c. Ajaran tentang jiwa dan keselamatan
Injil Maria berisi dialog simbolik tentang:
• Perjalanan jiwa setelah kematian
• Jiwa harus melewati “kekuatan-kekuatan” (nafsu, ketakutan, ketidaktahuan)
• Keselamatan dicapai melalui pengetahuan rohani (gnosis) dan pembebasan batin
Ini berbeda dengan Injil kanonik yang menekankan iman, pertobatan, dan kasih.
Meskipun non-kanonik, Injil Maria penting karena menunjukkan keragaman pemikiran Kristen awal dan menggambarkan peran perempuan yang kuat, membantu sejarawan memahami konflik teologis awal (otoritas, kepemimpinan, gender)
Namun, Injil Maria bukan bukti sejarah langsung tentang kehidupan Yesus, melainkan refleksi keyakinan komunitas Kristen tertentu.
INJIL MARIA – KUTIPAN & PENJELASAN AYAT DEMI AYAT
1. Ajaran Yesus tentang dosa dan hakikat manusia (Injil Maria 4:1–6): “Tidak ada dosa; yang ada adalah ketika kamu bertindak menurut sifat alamimu yang rusak.”
Penjelasan:
• Ini ajaran sangat khas gnostik
• Dosa bukan pelanggaran hukum ilahi, tetapi akibat ketidaktahuan rohani, manusia lupa jati dirinya yang sejati
• Berbeda dengan Injil kanonik yang menekankan dosa sebagai pelanggaran kehendak Allah, Injil Maria menekankan kesadaran batin
Intinya: keselamatan adalah pemulihan kesadaran rohani
2. Yesus meninggalkan murid-murid → mereka takut (Injil Maria 5:1–3): “Setelah Ia berkata demikian, Sang Juruselamat pergi. Murid-murid berdukacita dan menangis.”
Penjelasan:
• Murid digambarkan lemah dan takut
• Tidak langsung berani mewartakan ajaran Yesus
• Gambaran ini kontras dengan Kisah Para Rasul
3. Maria Magdalena menguatkan para murid (Injil Maria 5:4–10): “Janganlah kamu berdukacita atau bimbang, sebab kasih karunia-Nya akan menyertai kamu.”
Penjelasan:
• Maria berperan sebagai: Pemimpin, Penghibur dan Penafsir ajaran Yesus
• Ini sangat radikal pada konteks abad ke-2 karena adanya seorang perempuan menasihati para rasul laki-laki
Pesan teologis: otoritas berasal dari pemahaman rohani, bukan gender
4. Maria menerima wahyu rahasia dari Yesus (Injil Maria 6:1–7): Petrus berkata: “Saudari, kami tahu bahwa Juruselamat lebih mengasihimu daripada perempuan lain. Katakanlah kepada kami perkataan-Nya.”
Penjelasan:
• Petrus mengakui Maria memiliki akses khusus kepada Yesus
• Ini bukan cinta romantis
• “Mengasihi” di sini berarti: Kepercayaan rohani, Kedalaman pemahaman
5. Ajaran tentang perjalanan jiwa (Injil Maria 7–9): “Jiwa naik dan berkata: ‘Aku telah dibebaskan dari dunia.’” Lalu jiwa melewati empat kekuatan:
1. Kegelapan
2. Nafsu
3. Ketidaktahuan
4. Murka
Penjelasan ayat per ayat:
• Jiwa manusia terikat oleh kondisi batin negatif
• Keselamatan bukan lewat ritual, tetapi pembebasan batin dan pengetahuan diri (gnosis)
• Dunia materi dipandang sebagai penghalang
6. Petrus menolak otoritas Maria (Injil Maria 10:1–2): “Apakah Juruselamat sungguh berbicara secara rahasia kepada seorang perempuan dan bukan kepada kita?”
Penjelasan:
• Kritik Petrus bersifat Teologis, Sekaligus gender-biased
• Ini mencerminkan konflik nyata dalam gereja awal: Siapa yang berhak memimpin? Apakah perempuan boleh menjadi otoritas rohani?
7. Lewi membela Maria (Injil Maria 10:3–6): “Jika Juruselamat menganggapnya layak, siapakah engkau hingga menolaknya?”
Penjelasan:
• Lewi menegur Petrus secara terbuka
• Argumen utama: Yesuslah sumber legitimasi, Bukan tradisi patriarkal
Pesan moral Injil Maria: Penolakan terhadap wahyu sering lahir dari ego, bukan iman
8. Penutup Injil Maria (Injil Maria 10:7–10): “Mereka mulai pergi untuk memberitakan dan mengajarkan.”
Penjelasan:
• Injil ditutup dengan nada optimistis
• Ajaran Maria mendorong misi
• Ia berfungsi sebagai pemantik keberanian murid
Kesimpulan Teologis
Injil Maria mengajarkan bahwa:
• Keselamatan = pembebasan batin & pengetahuan rohani
• Maria Magdalena = murid dengan otoritas spiritual
• Konflik kepemimpinan sudah ada sejak gereja mula-mula
• Tidak ada ajaran Yesus menikah atau unsur seksual
Injil ini bukan catatan sejarah Yesus, melainkan: cermin pergulatan iman, kekuasaan, dan gender dalam Kristen awal.